ALIN - 1. Pertemuan Pertama - Wattpad Story by nL


Selamat beristirahat wanita cantik yang tulus, aku akan selalu merindukanmu - 2021

• Part 1 - PERTEMUAN PERTAMA 

SMA PELITA BAKTI, sebuah sekolah negeri yang menjadi salah satu sekolah favorit di kota Bandung dengan interior khas Belanda yang menjadi salah satu alasan keinginan anak muda bersekolah di sana.

Tepat di hari Senin, 4 Januari 2021, SMA Pelita Bakti mengadakan pekan olahraga dan kesenian untuk menyambut perayaan tahun baru yang telah menjadi rutinitas sekolah selama satu dekade terakhir. Para siswa dan siswi saling berlomba memperebutkan gelar juara. Dan sudah menjadi tradisi bagi para kelas yang perwakilannya mendapat juara 1, kelas tersebut akan menjadi kelas yang paling dihormati.

Salah satu cabang olahraga kini tengah menjadi pusat tontonan satu sekolah. Banyak siswi yang saling bersahutan menyemangati jagoannya. Setiap mereka mencetak poin, seruan nyaring bergema memenuhi gendang telinga. Semua nampak menikmati permainannya.

“Alin!” sahut perempuan berusaha memanggil temannya yang berada di barisan depan penonton.

“ALIN!” Sang empu nama pun menoleh. Ia melambaikan tangannya, menyuruh gadis itu agar menghampirinya. “Kenapa?”

“Abang lo ditahan Polisi.”

“Ha? K-kok bisa?”

“Dia dilaporin bunuh orang.”

“B-bunuh?..”

“Hp lo mati? Barusan Ibu lo telpon ke gue, dia nyuruh lo pulang ke rumah gue dulu.” Alin segera mengecek ponselnya dan benar saja ponselnya mati. “T-terus apa lagi kata Ibu?”

“Udah. Orang tua lo mau urus-urus dulu biar Bang Bara dibebasin.”

“Siapa yang dibunuh?”

“Gue juga gak tau, cuman itu aja yang dibilang Ibu lo.”

“O-ok .. thanks San.”

• • •

Satu minggu setelah pekan lomba berakhir, SMA Pelita Bakti menjalani aktifitas seperti biasa. Di sudut kantin, beberapa siswi nampak tengah berselisih paham akibat seseorang tak sengaja menumpahkan makanannya dan mengenai seragam salah satu siswi yang tengah duduk di tempatnya.

“Maaf, gue gak sengaja.”

“Iya, gapapa. Lain kali matanya dipake ya, hati-hati.” Ia hanya berucap demikian seraya pergi. Namun lain lagi dengan teman-temannya yang malah mengata-ngatai Alin.

“Untung Bunga baik, kalo gue yang gitu udah gue tarik rok lo!” Alin hanya bisa meminta maaf. Ia lalu bergegas meminjam kain lap dan serok pada Bi Euis pemilik warung, untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang berserakan di lantai.

“Sini.” Seseorang mengambil alih kain lap yang berada di tangan kiri Alin, dan meraup semua sisanya hingga bersih.

“Makasih.” Ucap Alin. “Biar gue aja, gak usah repot-repot.”

“Gapapa. Bukan kamu yang salah, tapi tali sepatu kamu yang salah.” balas laki-laki itu, ia lalu menarik tali sepatu Alin yang terlepas dan mengikatnya kembali. “Lain kali hati-hati, untung gak sampai jatuh.”

“I-iya makasih.”

“Sini aku beresin sisanya, kamu beli lagi makanannya terus makan. Perempuan itu harus jaga pola makan.”

“Iya, sekali lagi makasih.”

“Makasih mulu, makan gih!” Alin hanya mengikuti ucapan laki-laki itu. Ia bahkan kebingungan karena tidak mengenalnya. Tapi sepertinya Alin tidak asing dengan wajahnya.

“Makan yang banyak ya.” Ucapnya menghampiri Alin yang sudah duduk di salah satu meja hendak menyantap makanan barunya. “Jangan lupa cuci tangan dulu.”

“U-udah.”

“Yaudah, aku tinggal ya.” Alin hanya mengangguk. Laki-laki itu lalu pergi menuju tempatnya bersama teman-temannya, ia nampak mengulas senyum saat pandangannya dengan Alin bertemu.

Alinda Karasya, merupakan siswi pindahan dari Jakarta yang harus ikut dengan Ibunya sebab telah berpisah dengan Ayah kandungnya. Dan kini Ibunya menikah dengan pria asal Bandung dan akhirnya menetap di Kota Kembang tersebut.

“Lin, lo gapapa?” tanya Sandra, sahabatnya yang baru saja mendatangi tempat duduk Alin. “Gue denger lo numpahin makanan ke seragamnya Bunga, lo gak di apa-apain sama temennya?”

“Engga San.”

“Syukur deh, gue udah panik pas denger dari anak Osis.”

“Oh iya, nanti pulang sekolah jadi kan?” tanya Sandra. “Apa emang?”

• • •

Alin yang tengah membaca buku novel di kamarnya terhenti saat ponselnya menunjukkan notifikasi pesan masuk. Ia lalu meraih ponsel ber-casing bunga yang terletak di atas nakas di samping tempat tidurnya dan melihat pesan tersebut dari nomor yang tidak dikenal.


Askal

|Hai. Simpan nomorku ya

|Askal

Iya|

Bersamaan dengan itu telepon masuk dari Sandra menyadarkan Alin tentang janjinya sepulang sekolah yang akan mengantar Sandra 8 pasar untuk mencari perlengkapan bahan makanan di rumahnya, sebab orang tuanya hendak pergi ke luar kota.

ALINNNNNN~ GUE UDAH NUNGGU DI TERMINALLL!! LO DI MANA?!!”

“Ya ampun maaf San, gue ke sana sekarang.” Alin lantas bergegas mengganti pakaiannya dan mengambil beberapa lembar uang yang ia masukkan ke dalam tas slempangnya dan segera menuju pangkalan ojek. “Mas, ke Pasar Terminal!”

Sementara Sandra nampak memisuh begitu Alin sampai. Alin hanya bisa meminta maaf berulang kali hingga akhirnya Sandra pun luluh. “Mau beli apa aja?”

“Udah Ibu gue catet kok.”

Mereka berjalan beriringan memasuki pasar dan turun ke lantai paling bawah, tempat khusus untuk makanan. Satu-persatu daftar bahan yang sudah dibeli Sandra beri tanda. “Beras? .. masa kita angkut beras juga sih.” Ujar Sandra membaca daftar terakhir.

“Ya mau gimana lagi, itu kan udah sesuai catatan Ibu lo.”

“Ish~ masalahnya ini kita aja udah kerepotan, ditambah beras gimana bawanya Linnn..” Alin berpikir namun isi kepalanya sedang tidak bisa diajak kompromi, yang muncul hanyalah wajah laki-laki yang telah membantunya sewaktu di kantin.

“ALINNN!” Seru Sandra membuyarkan lamunannya. “Gimana?”

“Minta ke adik lo aja buat ke sini bawa beras.”

“Iya ya, bentar.” Sandra pun segera menelepon adiknya dan memintanya untuk menyusul ke pasar. Untung saja adik Sandra tidak rewel dan langsung menurutinya, membuat mereka berdua menghela nafas lega.

“Ngomong-ngomong gimana persoalan Abang lo?” tanya Sandra teringat hal yang menimpa saudara sambung Alin.

“Ya gitu, dia harus ditahan sampai keputusan pengadilan di persidangan nanti,” balas Alin. “Emang dia yang salah juga.”

“Tapi Ayah tiri lo jadi, mau .. nyogok?” Sandra mengecilkan suaranya di kata terakhir. “Gak tau, gue gak mau ikut campur kalo sama dia.”

“Tapi salut sih, lo bisa akrab sama Bang Bara kayak sodara kandung. Cuman .. kenapa lo gak mau akrab sama Ayah sambung lo?”

“Tuh adek lo udah sampai.”

• • •

“Alin?”

Alin yang tengah mengerjakan tugas sekolahnya di meja belajar lantas menengok ke arah pintu di mana ibunya berada. “Ada apa Bu?”

“Ibu sama Ayah mau ke Kantor Polisi, kamu jangan ke mana-mana ya. Bibi udah pulang barusan, kunci rumah.”

“Abang bakal dibebasin?” tanya Alin. Ibunya nampak terdiam. “Liat saja nanti.”

“Yaudah hati-hati di jalan.” Wanita paruh baya itu berlalu pergi setelah mengecup kening putri semata wayangnya. Alin lalu terdiam dengan pikirannya, ia teringat dengan pesan singkat dari laki-laki bernama Askal.

Saat Alin menyalakan ponselnya ternyata pesan baru kembali masuk dari laki-laki itu.

Askal

|Aku di depan rumah mu

|Boleh keluar sebentar?

|Mau ngomong

Alin jelas terkejut, dia mengirim pesan satu jam yang lalu dan Alin baru sadar .. dari mana dia tahu rumahnya?

Dengan cepat Alin berlari menuju ke luar rumah. Ia melihat ke sekitar rumahnya namun tidak ada siapapun. Alin kembali menatap layar ponselnya, apa dia sudah pergi?

“Hei.” Alin terperanjat saat seseorang berbisik tepat di telinganya yang seketika membuatnya berbalik ke belakang. “Kaget ya, maaf.” Ucapnya.

“Lo ngapain malem-malem ke sini? Terus .. tau dari mana ini rumah gue?” Laki-laki bernama Askal itu tersenyum, lalu ia menunjuk ke dada kirinya. “Ikatan hati dan batin.”

“Maksudnya?”

“Aku cuman mau mastiin kamu baik-baik aja di rumah sendiri.”

Alin kembali dibuat heran, “Kok tau?” Askal kembali menunjuk dada kirinya.

“Dingin, gih masuk.”

“Dari tadi ya?” Askal hanya menjawab dengan anggukan. “Kenapa gak ketuk pintu aja?”

“Nanti orang tua kamu salah paham terus marahin kamu.”

“Y-ya kenapa gak langsung pulang tadi pas aku belum baca pesan kamu.” Ujar Alin yang seketika membuat Askal kembali tersenyum. “Aku-kamu?”

“Eh maksudnya–”

“Aku kan mau mastiin kamu baik-baik aja sendiri,” balas Askal. “Sana masuk kunci pintunya, jangan keluyuran!”

“Lo?”

“Aku pulang habis kamu masuk.”

Rasanya seperti pasangan kekasih. Begitulah yang tersirat dalam benak Alin saat ini.

“Have a nice dream, Al.”

• • •

Untuk selengkapnya bisa di cek di akun wattpad @Nlestarii dan lihat cerita seru lainnya!

Comments